By Dwijo Suyono
JOURNALJOGJA-GUNUNGKIDUL-Tepat pada perayaan Hari Bumi hari ini, 22 April Yayasan Griya Jati Rasa mengajak kita merenungkan sebuah langkah nyata yang baru saja terjadi di Balai Pertemuan Kalurahan Giricahyo. Di sana, pada Senin, 20 April 2026 dilakukan sosialisasi Pilot Proyek Pariwisata Karbon Terpadu paska Bapperida DIY, kepada para pamong dan anggota kelompok tani hutan Giriwana.
Kegiatan ini sekaligus mempertemukan harapan dengan sains. Perayaan hari bumi, adalah momentum berefleksi atas perjalanan 11 tahun Yayasan Griya Jati Rasa (HUT 28 Maret) yang baru saja dirayakan dengan diskusi strategis model ekonomi sirkular berbasis pariwisata karbon terpadu dengan pilot proyek Kalurahan Giricahyo, Kapenewon Purwosari, Kabupaten Gunung Kidul di Bapperida DIY pada 30 Maret lalu. Pada saat itu, Lurah Kalurahan Giricahyo, Suprayana menerima sertifikat simbolik dengan penetapan kalurahannya sebagai pilot proyek dari pergerakan mitigasi perubahan iklim dan transformasi ekonomi hijau berbasis Masyarakat yang dimotori oleh Yayasan Griya Jati Rasa.
Di tengah suhu bumi yang terus naik, Yayasan melalui kepakaran Farsijana Adeney Risakotta—penerima Kartini Award 2024 dari Pesantren Sunan Kalijaga, Gesikan, Bantul—menawarkan metodologi penyembuhan bumi yang berakar pada kedaulatan petani. Apa yang dilakukan Farsijana adalah antitesis dari fenomena "Green Colonialism" atau "Carbon Colonialism" yang kini sedang melanda Indonesia dan dunia. Fenomena ini dicirikan oleh perebutan otoritas atas lahan dan narasi lingkungan oleh korporasi atau Lembaga domestic atau internasional dengan kedok penyelamatan bumi, namun faktanya justru meminggirkan masyarakat lokal. Bahkan Masyarakat lokal kehilangan akses ke hutan yang menjadi bagian dari kehidupan mereka sendiri.
Hubungan Emosional: Dari Biji Nyamplung hingga Pohon Raksasa
Jadi kemarin di Giricahyo, sebuah pemandangan mengharukan terjadi. Yayasan memfasilitasi pelatihan yang dilakukan oleh pak Hery dari PT Pandu Wijaya Negara, kepada Kelompok Tani Hutan (KTH) Giriwana, para pamong dan tokoh masyarakat untuk belajar membuat benih sendiri dari biji nyamplung.
Farsijana menjelaskan bahwa: “ Ini bukan sekadar urusan teknis kehutanan, melainkan upaya membangun hubungan emosional yang intim antara petani dan calon pohonnya”. Dengan menanam dari biji, memupuk menggunakan Eco-Enzym untuk vitalitas kesehatan pohon, petani memiliki ikatan batin dengan pohon yang kelak mereka asuh.
Pengetahuan pemulihan hutan tropis kini tidak lagi diimpor dari luar, melainkan dimulai dari tangan petani sendiri. Mereka belajar menghitung perkembangan diameter pohon secara akurat guna memastikan validitas program Asuh Pohon. Kelak, data inilah yang akan ditawarkan kepada tamu-tamu di Edge Resort Yogyakarta untuk menggantikan jejak karbon (carbon offset) mereka dengan transparansi yang jujur.
Sinergi Akademisi dan Kedaulatan Digital
Perjuangan kemandirian ini ditopang oleh kolaborasi lintas disiplin melalui hibah strategis Yayasan. Fakultas Bioteknologi UKDW melatih kesehatan pohon, sementara Fakultas Teknologi Informasi UKDW mengamankan data tersebut dalam sistem barcode. Validitas ini pun telah diakui oleh mitra internasional seperti Maryland University yang telah melakukan kunjungan pada tanggal 16 Januari 2026, dan diharapkan akan kembali lagi pada tahun 2027 untuk mengalami pariwisata karbon bersama Masyarakat di sana. Hal ini membuktikan bahwa hasil kerja petani Giricahyo diakui dunia.
Sisi spiritualitas tetap menjadi ruh dalam pergerakan bersama ini, melalui Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) An-Nur, yang sejak Deklarasi 22 April 2025 konsisten mengawal narasi Khalifah sebagai penjaga bumi sebagaimana dipaparkan oleh Dr Ahmad Sihabul Millah, M.A, pada pertemuan kemarin. Sementra Drs Kisworo M.Sc dari Univeristas Kristen Duta Wacana, dengan kepakaran ekowisata memadukan program karbon untuk membentuk narasi karbon petani sehingga bisa diterima oleh masyarakat Indonesia dan internasional sebagaimana menjadi desain makro pergerakan dari Yayasan Griya Jati Rasa. Ditambahkan oleh Farsijana, bahwa semua kegiatan ini diikat dalam sistem ekonomi mandiri melalui Koperasi Konsumen Griya Jati Rasa dengan aplikasi Semar Jati Rasa Mobile, yang memastikan distribusi Gaji Karbon dari program asuh pohon yang diadopsi oleh Masyarakat luas, sampai ke tangan petani secara adil.
Menuju Yogyakarta Net Zero Emission 2030
Lebih lanjut Farsijana menjejaskan bahwa refleksi Hari Bumi 2026, yang sekaligus menunjukan 1 tahun pergerakan mitigasi perubahan iklim dan transformasi ekonomi hijau berbasis masyarakat ini membawa pesan kuat: penyembuhan bumi dimulai dengan memanusiakan penjaganya. Petani Giricahyo dan semua petani termasuk masyarakat adat di seluruh Indonesia, seperti di Papua dimana Yayasan Griya Jati Rasa juga sudah mengorganisir mereka, kini berdiri sebagai subjek yang berdaulat—mereka adalah pemilik benih, pemilik data, dan pemilik masa depan lingkungannya.
Yogyakarta telah menjadi laboratorium hidup bagi dunia, membuktikan bahwa kolaborasi umat manusia yang menyatukan sains, bisnis, dan spiritualitas adalah satu-satunya jalan menuju bumi yang lebih dingin. Dengan Asuh Pohon dan Gaji Karbon, kita sedang bergerak mantap menuju target Yogyakarta Net Zero Emission 2030. Petani adalah kunci, dan pengetahuan yang "nyawiji" adalah senjatanya (Farsijana)
Bagikan artikel ini